• sandal kesehatan

Ajang Cari Jodoh Dalam Pandangan Islam

August 30, 2014, Category: ISLAM · Leave a Comment

Dalam Islam, kewajiban menikahkan anak perempuan itu menjadi tugas wali atau sang ayah. Ayah inilah yang berusaha mencarikan laki-laki yang baik dan shalih sebagai suami anak perempuannya. Bila karena satu dan lain hal, wali tidak bisa melakukan kewajibannya, jadi tugas negaralah yang menyelesaikan permasalahan ini sesuai dengan hukum syara’.

Ayah yang baik, akan memilihkan calon suami untuk putrinya dengan memilih laki-laki yang shalih. Abu Nu’im mentakhrij di dalam al-Hilyah, 1/215, dari Tsabit al-Banaty, dia berkata: “Yazid bin Mu’awiyah menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’ untuk menikahi putrinya. Namun Abu Darda’ menolak lamarannya itu. Seseorang yang biasa bersama Yazid berkata, ‘Semoga Allah memberikan kemaslahatan kepa­damu. Apakah engkau berkenan jika aku yang menikahi putri Abu Darda’?” Yazid menjawab, “Celaka engkau. Itu adalah sesuatu yang amat mengherankan.” Temannya berkata, “Perkenan­kan aku untuk menikahinya, semoga Allah mem­berikan kemaslahatan kepadamu.” Terse­rahlah,” jawab Yazid. Ketika Abu Darda’ benar-benar menikahkan putrinya dengan temannya Yazid itu, maka tersiar komentar yang miring, bahwa Yazid menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’, tapi lamarannya ditolak. Tapi ketika ada orang lain dari golongan orang-orang yang lemah, justru Abu Darda’ menerima dan menikahkan­nya. Lalu Abu Darda’ berkata,”Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku.

Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah-rumah yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya.”

Sahabat,  jadi perempuan itu mulia, lho… Bahkan seorang ayah yang memiliki anak perempuan yang dididik dengan Islam hingga menikahkannya dengan lelaki shalih, Insya Allah jaminannya surga, lho… Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Barangsiapa diuji dengan anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka (anak-anak perempuan itu) menjadi benteng untuknya dari api neraka.” (HR Bukhari, Muslim)

Nah, karena saat ini kondisi umat Islam sedang berada di kemundurannya, maka sang ayah tak lagi tahu kewajibannya, apalagi negara. Dengan dikompori oleh ide feminisme, jadilah perempuan merasa bebas lepas untuk menentukan sikap termasuk dalam hal jodoh. Demi menarik lawan jenis, mereka tak segan umbar aurat. Demi mendapatkan suami tajir mereka rela rendahin harga dirinya agar dipilih dan bisa mengalahkan saingannya.

Biro jodoh atau sebuah upaya jasa untuk mempertemukan 2 anak manusia dengan tujuan pernikahan itu hal yang boleh-boleh saja dalam Islam. Yang jadi pertanyaan, sejauh mana pelaksanaan biro jodoh itu agar sesuai dengan syariat Islam dan bukan malah jadi mengumbar maksiat. Rasulullah saw. memberikan rambu-rambu dalam memilih pasangan: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara; (1) karena hartanya, (2) karena kebaikan keturunan atau kedudukannya, (3) karena kecantikannya, dan (4) karena agamanya. Maka beruntunglah engkau yang memilih wanita yang beragama, karena dengan demikian itu engkau akan berbahagia” (HR Bukhari dan Muslim)

Berdasar rambu-rambu ini, sebuah biro jodoh yang bertanggung jawab tidak akan mengumbar identitas fisik para pesertanya dengan mudah. Visi dan misi menikah itu lebih diutamakan sebagaimana saran Rasulullah saw. di atas. Ketika lelaki memilih perempuan, faktor utamanya taqwa. Bukan fisik, wajah, apalagi postur tubuh. Karena sesungguhnya, anugerah fisik itu sudah dari sananya. Manusia tak bisa memilih untuk punya hidung seindah Katie Holmes, misalnya. Atau mata seindah Katherine Zeta Jones. Ya sudah, apa yang ada disyukuri saja dengan memanfaatkannya di jalan Allah. Bukan untuk mengumbar maksiat. Ketika perempuan memilih lelaki pun, bukan faktor pekerjaan dan gaji yang utama. Tapi, lebih kepada kualitas diri yang bakal menjadi calon qowwam atau pemimpin rumah tangga. Percuma juga punya penghasilan puluhan juta rupiah per bulannya tapi tak bisa baca al-Qur’an. Punya mobil mewah mengkilap menggiurkan, tapi ternyata jarang sholat wajib. Aduh…. walaupun cakep dan tajir, pria jenis ini mah buang ke laut saja. Nggak banget gitu lho!

Sadarlah!

Sekarang saatnya bagi kaum hawa yang dieskploitasi kejombloan untuk sadar. Apa pun dalihnya, uang adalah Tuhan para penyelenggara acara itu. Tak peduli harus dengan memanfaatkan perasaan orang lain. Dalam hal jodoh, perasaan jelas terlibat. Itu adalah komoditas yang akan memancing pemasang iklan untuk berdatangan. Uang adalah hasil akhirnya. Jodoh itu masalah serius, bukan main-main. Apa bisa seorang jodoh yang baik dunia-akhirat didapat dari penilaian fisik selama 10 menit? Pasti faktor nafsu yang banyak berperan di sana.

Tata krama menundukkan pandangan pada memandang sesuatu yang haram tidak berlaku sama sekali. Boro-boro bisa menundukkan pandangan, baju s aja pada sengaja dibuka-buka. Seorang muslim selalu melibatkan peran serta Allah SWT dalam setiap langkah kehidupannya, termasuk dalam hal jodoh. (kamila-jombang.blogspot.com)

View the original article here

Related posts:

  1. Kemuliaan Anak Adam Dalam Konteks Eksistensi Martabat Manusia

Related Posts

  • Mengenal As-Shuffah: Semangat Belajar dan Kesederhanaan Ahli Shuffah (Bag 3)
  • REPUBLIKA.CO.ID,  Dr Akram Dhiya Al-Umuri dalam Shahih Sirah Nabawiyah,  mengisahkan, para ahli Shuffah mencurahkan perhatiannya untuk mencari ilmu. ‘’Mereka beritikaf di Masjid Nabawi untuk beribadah dan...

  • wpid-qunutas200200.jpgHukum Do’a Qunut Witir
  • Penyebab Ilmu Jadi Bumerang Jahat Bagi Pencarinya

     Di pagi ini, kami mendapatkan pelajaran menarik dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdilllah bin Baz rahimahullah. Beliau memberikan faedah menarik bahwa orang yang berilmu bukanlah hanya...

  • Pelajaran Mulia Dari Nabi Ibrahim Dengan Imbalan Kamar Surga
  • Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan ora sahabatnya serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga...

  • Kerja di Arab Saudi, Insinyur Italia Memeluk Islam
  • REPUBLIKA.CO.ID, Seorang warga negara Italia yang tengah bekerja di arab Saudi memutuskan masuk Islam setelah sekitar sejam berkomunikasi dengan pelajar Muslim terkait kerja sama bisnis lokal. Demikian...