Indahnya Saling Memaafkan

May 7, 2012, Category: HIKMAH KEHIDUPAN · Leave a Comment

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Muhammad Iqbal

Suatu ketika sahabat Bilal bin Rabah RA terlibat pertikaian dengan Abu Dzar RA. Abu Dzar melontarkan perkataan yang sangat menyakitkan hati Bilal. “Wahai anak wanita hitam.” Bilal lalu mengadukan kejadian tersebut kepada Rasulullah SAW. Dan, Rasulullah pun memanggil Abu Dzar guna mengklarifikasi kejadian tersebut. Lalu, Rasul menasihatinya dan Abu Dzar merasa dia telah berbuat salah dan zalim kepada sahabat seperjuangannya.

Saat itu juga, Abu Dzar mencari keberadaan Bilal. Sesampainya di hadapan Bilal, Abu Dzar meletakkan pipinya di atas padang pasir di bawah teriknya matahari sambil berkata, “Wahai sahabatku, aku rela engkau menginjak pipiku ini demi memperoleh maaf darimu atas perbuatan zalim yang telah aku perbuat.” Namun, ketika itu Bilal merogoh tangan Abu Dzar. “Aku telah memaafkanmu wahai sahabatku.” Sungguh indah akhlak yang diperlihatkan kedua sahabat Rasulullah SAW.

Dalam menjalani hidup sosial bermasyarakat, manusia tidak pernah lepas dari sebuah kesalahan, entah itu terhadap tetangga, kawan, ataupun rekan kerja. Kesalahan adalah suatu hal yang wajar ketika kita berinteraksi dengan sesama. Namun, ketika kita bisa menyikapi kesalahan tersebut dengan suatu proses saling maaf dan memaafkan, itulah yang luar biasa. “Setiap anak Adam tidak luput dari kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR Tirmidzi).

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS al-A’raf: 199). Dalam ayat tersebut Allah SWT mengabarkan kepada umat Muslim bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan di atas muka bumi ini.

Tiga konsep yang Allah berikan kepada kita. Pertama, jadilah pemaaf. Ketika proses saling maaf dan memaafkan sudah menjadi habit (kebiasaan) dalam masyarakat, sungguh masyarakat tersebut akan menjadi suatu masyarakat yang harmonis, mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) menaungi mereka.

Kedua, mengimbau kepada kebenaran. Di kala rasa cinta dan kasih menaungi kehidupan mereka, di sana akan terjalin suatu interaksi yang harmonis dan mereka akan mengoreksi sahabatnya yang berbuat kesalahan.

Ketiga, berpaling dari orang-orang bodoh. Ketika suatu masyarakat sudah menjadi masyarakat harmonis dan religius, sungguh mereka akan berpaling dari perilaku orang-orang yang bodoh, perilaku yang kering akan hal-hal yang bermanfaat. Dan, seperti inilah seorang Muslim, “meninggalkan suatu hal yang tak berguna adalah kebaikan bagi seorang Muslim.”

Pantaskah seorang dewan legislatif adu jotos karena suatu hal sepele, padahal mereka adalah wakil-wakil rakyat? Pantaskah suatu kelompok agama menghujat kelompok lainnya demi kepentingan segelintir orang, padahal mereka berdiri di atas agama yang sama.

Masyarakat yang sarat akan nilai-nilai cinta dan kasih bermula dari suatu proses yang sangat agung, yaitu saling maaf dan memaafkan. “Orang-orang penyayang akan disayang oleh Allah yang Maharahman. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi oleh Allah.” (HR Ahmad). Wallahu a’lam.

View the original article here

Keyword ke mubarokonline.com:

hadits saling memaafkan (36),hadits tentang saling memaafkan (28),hadist saling memaafkan (24),hadist tentang saling memaafkan (21),hadis tentang saling memaafkan (12),hadits nabi tentang saling memaafkan (2),saling memaafkan menurut arifin ilham (1),hadits saling memaafkan dan menghormati (1),hadis nabi tentang saling memaafkan (1),hadist nabi tentang saling memaafkan umat muslim (1)

Related posts:

  1. Hikmah Pagi: Sahabat Kaum Dhuafa
  2. Dosa Pemimpin
  3. Belajar Mengakui Kesalahan

Related Posts

  • Antara Marah dan Murka
  • Oleh KH Tengku Zulkarnain

    Salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan ghaizh (marah). Ini disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 134. Dalam tafsir...

  • Sisi Romantis Rasulullah SAW
  • Oleh: Agustiar Nur Akbar

    Syariat Islam diturunkan melalui tangan Muhammad SAW. Bukanlah malaikat, melainkan beliau seorang manusia biasa seperti kita.  “Katakanlah, Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia...

  • Ketabahan Haji Jama’an
  • Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

    Orangnya tinggi, kurus, berkumis tipis, dan selalu memakai kopiah putih tandanya dia sudah pernah melaksanakan ibadah haji. Tidak sedikikit pun lagi terlihat...

  • Hikmah: Bersikap Tenang
  •  Oleh Makmun Nawawi

    Rasulullah pernah berkata kepada al-Mundzir, kepala kabilah Abdul Qais, “Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah, yaitu sifat penyabar dan tidak suka...

  • Kenapa Meninggalkan Shalat?
  • Oleh: Abi Muhammad Ismail Halim

    Di dalam kitab Fiqus-Sunnah dikutip sebuah diskusi mencekam tentang orang yang meninggalkan shalat.  Di dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah disebutkan bahwa Syafi’i dan Ahmad...